Rabu, 17 November 2010

Sepenggal Rasa

Wahai embun yang menyejukkan hati
Sirami aku dengan dinginnya butirmu
Bawa aku tenggelam dalam sang subuh menenangkan

Wahai mentari yang ramah menyapa
Hangatkan aku dalam dingin ruang berbesi
Sinari gelapnya sudut ruang hati

Wahai angin yang lembut menerpa
Segarnya sejukmu melunakkan sisi keras jiwa
Meredamkan amarah yang membara

Wahai bintang yang berkerlip mesra
Cahyamu indah hiasi langit hitamku
Temani sepiku bersama kerlinganmu

Wahai engkau yang kumaui ada
Aku merepih dalam kesedihan

Senin, 27 September 2010

Tiga Tahunku Bersamanya

Hari ini tepat tiga tahun si Luppy bersemayam dengan nyamannya di tubuhku. Banyak hal yang membuatku bersyukur. Meskipun kabar remisi belum kudapat tetapi aku dapat merasakan bahwa aku hampir kembali di kala Luppy masih jauh dariku. Penyesuaian, sehingga mungkin aku semakin enjoy saja. Tablet immunosupresan hingga detik ini masih setia ku konsumsi meskipun kemarin sempat malas memakannya. Hahha! Beginilah manusia yang seenaknya. Aku nggak mau lagi drop, kambuh, flare up, atau apalah sebutannya. Aku tak tega melihat kekhawatiran mereka yang senantiasa ada untukku. Memang pada dasanya aku masih rentan terhadap kelabilan emosi dan kondisi badan. Namun aku mencoba saja untuk kuat. Ketika ku tetap jatuh, aku akan mengurangi frekuensi kegiatan yang kulakukan. Luppy, panggilan kesayangan untuk si Lupus yang super duper antik itu memang menjengkelkan. Kadang oke, sering trouble. Hmmm, mungkin memang belum bisa terkontrol. Rencana bulan depan ke lab untuk cek mandiri. Lihat Hb, LED, dan beberapa rujukan lain yang menunjukkan stabil tidaknya tubuhku. Bismillah, aku bisa menjalani ini hingga finish nanti.

Sabtu, 18 September 2010

Song for Love

Hi you
Somebody who love me
Fill my heart with song
Let me sing for ever more
Fly me to the moon
Let me sing among those stars
You're all I long for
All worship and adore
Hold my hand
Tell me love
Please be true

Minggu, 12 September 2010

Sweet Love

Show me a river that's so deep
Show me a mountain so high
I'll show you love that will last forever
Flying high, so high

Show me a place where dreams of a dreamer
And all the things you wish come true
I'd wish the world had all happy people
Then there'd be no wishing to do
Sweet love, oh sweet love
Give my live so much meaning

I know you're certain for this love
A little peace and understanding
Sweetest love

Senin, 06 September 2010

Satu Bintang

Dalam kerinduan
Ku meniti air mengalir menuju pelangi malam
Bidadari-bidadari anggun menyapaku dan menuntunku
Aku terbang dan melihat indahnya langit malam penuh bintang
Kutunjuk satu
Kupetik ia
Bintang perak yang kuingin untukmu
Kan kujaga, slalu kujaga dari tangan mereka yang menginginkannya
Bintang ini cermin hatiku
Satu hatiku untuk seorang Raja hatiku

Wahai hati yang ingin kusinggahi
Ketika kuketuk nanti
Bukakan lebih khusus lagi untukku
Kan kutitipkan bintang ini padamu
Obati segenap kerinduanku dan sakitmu karenaku
Wahai kau Raja yang luar biasa
Akulah Ratu yang inginkan bersamamu

Ketika Kau Menyapa

Rapuh, semakin kurapuh
Belaimu remukkanku
Kau berdusta untuk pergi
Aku hilang daya
Pingsan tak siuman
Diam membisu tak berkata
Sedih...
Tak tahu ini apa
Perasaan hebat yang menerjang
Seperti ombak menerjang karang
Aku yakin aku kuat
Tapi kali ini ia lebih kuat
Aku karang dan ia ombak
Sesekali aku mampu
Dan aku tetap bisa hancur
Sedih...
Kau ingkari janjimu untuk pergi
Tapi kau datang menyapa lagi
Aku tak mampu menahan rasa sakit yang telah kau berikan
Aku rapuh dan belum siuman

Jumat, 23 Juli 2010

Yang kutahu, Allah itu tidak tidur. Allah akan selalu membantu hamba-Nya disamping Allah akan senantiasa memberi cobaan untuk mengukur kesabaran hamba-Nya. Cobaan yang Allah berikan ini sekali lagi untuk mengukur tingkat kesabaran, bukan karena tidak sayang dan sebagainya. Ini yang sedang melandaku. Dua tiga bulan ini aku merasakan perubahan kesehatan yang luar biasa baik hingga ku bisa sungguh merasakan aku empat tahun lalu yang belum atau tanpa keluhan. Alhamdulillah, dokterkupun tersenyum puas akan perkembanganku. Bapak yang biasa terlampau khawatir, kini hanya menitipkan wejangan-wejangan ringan yang sekedar reminder kepentinganku. Bunda yang biasanya merancang menu padat asupan tipa dua jam, kini tak begitu ketat dan mempertahankan beberapa menu saja. Akupun begitu meskipun masih selalu menjaga. Beberapa kegiatan baru yang sedikit berbeda kucoba satu persatu. Kudalami jika aku memang sesuai di dalamnya, dan kutinggalkan jika sangat bertentangan. Aku kembali seperti dulu yang sudah bisa membereskan rumah satu paket dengan cuci mencuci dan memasak yang biasanya menghabiskan waktu total selama 2-3jam. Bahagianya aku. Ditambah lagi teman-teman yang selalu support, saudara yang selalu ada, dan my special one yang masih greteh dalam mengingatkan obat-makan-istirahat. All out sekali dan aku suka. Awalan yang kurang menyenangkan bersamanya pun kini berubah jadi kekuatan kita untuk selalu kompak menjalani hidup. Sejauh itu kesenangan yang aku rasakan.
Disamping itu datang satu persatu cobaan yang sedikit mengusik pikiranku. Satu persatu orang jahil, iseng, dan tak bertanggung jawab hingga mengusik hidupku datang membayangi, bahkan benar-benar menghampiri. Sampai terkadang aku kembali dihantui mimpi buruk masa lalu yang kutakutkan akan merapuhkanku lagi. Dan kini aku merasakan suatu masa yang berat untuk kujalani, tapi ku harus bisa. Cobaan dari banyak aspek yang berbeda datang secara bersamaan. Subhanallah sekali. Tak jarang sakit kepala hebat datang dan tak kunjung sembuh meski sudah kutelan penawarnya. Lalu? Aku menjadi sering berdiam diri yang terkadang seperti tren anak muda masa kini "meratapi" nasib. Lalu? Ku kirim SMS singkat kepada beberapa teman ODAPUSku dan mereka membalasnya. Obrolan singkat kami sering menjadi kesempatan untuk curcol, sharring satu sama lain. Tak kusangka. Masalahku hanya bagian kecil jika dibandingkan mereka. Cobaanku tak seberat mereka. Aku masih untuk sudah hampir setahun ini tak lagi ada rutinitas check-up, kecuali memang aku sendiri yang menghendaki. Mereka, masih dirujuk oleh dokternya masing-masing untuk check-up per minggunya. Beda mereka dan aku? Kesabaran mereka yang luar biasa menjadi inspirasiku menulis penggalan cerita ini. Semangatku yang kupikir sudah tinggi, ternyata masih ada yang mengalahkan. Segalanya begitu. Mereka yang berani melakukan perubahan untuk dirinyalah yang aku saluti dan selalu kucatat untuk kucontoh. Perubahan itu perlu. Menjadi lebih baik pastinya.
Special thanks and salutary for who make me think like that. . .

Selasa, 29 Juni 2010

Tanpa henti

Saat merapuh aku
Patah sayapku
Jatuh aku tersungkur tak berdaya
Buliran air mataku menetes ke pipi
Aku sakit
Kuinginkan seorang yang mampu membangkitkanku tapi tak ada
Jeritanku tak didengar
Keberadaanku tak dianggap
Berkeping-keping hancur hatiku
Tapi aku harus sanggup
Aku harus bisa bangkit
Aku harus berlari
Mengejar mimpiku
Tanpa henti
Tanpa henti
Tanpa henti

Selasa, 15 Juni 2010

Bisik Hati Seorang Cacat

Ufuk timur telah indah oleh garis kuning keemasan
Musisi alam malam tlah digantikan oleh mereka yang bertugas pagi
Bersahutan merdu
Gemerisik daun yang dibelai angin menembus kesunyian pagi ini

Perlahan kulangkahkan kakiku membuka jendela kamarku
Ku lihat taman bunga yang terhampar di depanku
Indah sekali, Tuhan
Meskipun aku tak seindah alamMu
Meskiipun aku tak sesempurna kemuliaanMu
Aku berusaha menjadi lebih baik, Tuhan
Diatas kakiku yang dibantu penopang tubuh
Diatas kakiku yang tak mampu berlari
Dengan mataku yang tak sempurna
Aku mencoba, Tuhan
Selalu menatap pasti ke depan
Dibantu jemariku yang tak lengkap
Aku akan mengukir, melukis, dan menulis impianku
Dengan tubuhku yang lemah
Aku akan mengejarnya dengan caraku yang istimewa, Tuhan
Tuhan, aku tahu
Ciptaanmu adalah sempurna
Meskipun aku terlihat tak seperti itu
Namun kupercaya
Aku akan sempura dengan cara yang lain
Di sisi yang lain
Aku bersyukur, Tuhan
Di tengah keterbatasanku
Aku masih kau beri kemampuan lebih yang tak mampu mereka lakukan

Aku bertasbih padaMu


Puisi ini spesial buat mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Love you. . .

Jumat, 09 April 2010

Bagaimana Hidup Manusia???

Di dunia ini kehidupan manusia sangat beragam. Aku menyadari dan sangat menyadari. Variasinya tak hanya satu dua macam. Ada berjuta, berpuluh juta, beratus juta, beribu juta, bahkan tak terhingga. Mungkin hanya Tuhan yang tahu. Kehidupan itu, sangat pahit, pahit, agak manis, manis, hingga sangat manis. Dan itu untuk manusia. Lantas, bagaimana tanggapan manusia mengenai "jatah" hidupnya???
Manusia, memiliki garis kehidupan masing-masing. Mereka tak semuanya bisa mensyukuri apa arti kehidupan yang sebenarnya sangat berarti. Mereka tak tahu bahwa arti hidup itu sangat dalam. Banyak kutemui manusia-manusia kaya yang masih serakah, dzalim, dan masih kurang atas semua yang ia miliki. Memang sifat manusia itu tak pernah puas. Namun, ketidakpuasan itu semestinya berbatas dan ada pada tempatnya. Ketidakpuasan manusia terhadap ilmu yang dimiliki jauh lebih baik daripada kepuasan terhadap kekayaan yang mereka miliki. Boleh kita lihat lagi manusia-manusia kaya. Mereka serakah dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta yang lebih. Meskipun aku tak juga memungkiri bahwa banyak pula manusia kaya yang bisa memaknai hidupnya dengan baik. Dan kehidupan mereka biasanya akan selalu bertahan baik, penuh berkah dan penuh kebahagiaan. Berbeda dengan manusia kaya yang kurang bisa memaknai hidup. Biasanya kekayaan mereka tak bertahan dan kehidupannya memiliki sisi susah karena kebahagiaannya tak mutlak ada karena berkah yang ada. Lalu, bagaimana dengan manusia yang hidup dalam kekurangan? Tak jauh berbeda. Bagi yang bisa memaknai kehidupan, hidupnya akan bahagia dan tenang meskipun mereka dilanda kesusahan. Mereka akan ringan menjalani hidup mereka yang sebenarnya berat dan mereka akan jauh terlihat kaya akan ketulusan, cinta, dan bahagia. Namun untuk mereka yang merasa terpuruk, akan senantiasa berkubang dalam kesusahan dan tak akan meningkat taraf hidupnya. Mereka tak akan mendapatkan kesempurnaan dan keindahan hidup dari hidup mereka. Mereka akan banyak keluhan mengenai hidup dan akan semakin terpuruk juga.
Aku meninjau lagi dari sisi kesehatan. Mereka yang sakit tapi bersemangat, lebih baik daripada mereka yang sangat sehat tapi patah semangat. Menurutku, sesungguhnya orang sehat tapi patah aranglah yang sakit. Mereka yang sakit tapi selalu semangat dan mau bangkitlah yang memiliki kesehatan yang abadi. Penyakit dalam arti medis yang diidap sesungguhnya bisa dikalahkan dan memang harus dikalahkan. Tak sepantasnya, manusia yang memiliki akal pikiran bisa kalah dan terpuruk dalam penyakitnya. Biarpun dokter mengatakan tak ada obat dan tak bisa sembuh penyakit itu, jika direnungkan lagi, itu sangat salah! Obat sesungguhnya adalah obat dari diri kita sendiri, dari pikiran, dari sugesti diri sendiri. Semakin menyerah, semakin nista seorang manusia terhadap sebuah penyakit. Tetapi semakin kuat manusia itu memiliki kepercayaan, maka semakin kalahlah sakit yang diderita. Di dunia ini tak ada yang abadi. Jadi tak perlulah meratapi apa yang menyedihkan, selalu menganggap bisa dihadapi akan menjadi solusi dari semua. Tuhan tidak tidur dan tidak pernah tidur. Tuhan beri cobaan, pasti beri jalan. Tak ada yang mustahil di dunia ini.
Intinya, nasib yang telah digariskan di dunia ini pasti ada start dan finishnya. Ada rintangan pasti ada jalan keluarnya. Sesulit apapun, semudah apapun, tergantung seorang manusia yang menjalani kehidupannya itu. Akhir baik atau buruknya, ada di tangan sang pemilik nasib. Tuhan hanya menggariskan apa yang harus terjadi. Selebihnya, manusia yang menyikapi dan menjalani.

Bagaimana kalian menjalani hidup kalian? Merasa menyenangkan? atau menyesakkan? Segeralah beri sentuhan perubahan dalam hidup sebelum kalian memang benar-benar menyesali hidup kalian....!!!^_^

Kamis, 25 Februari 2010

Thanks for love

Aku termangu menyepi menyendiri
Mengoreksi tiap titik kelemahanku
Tiap jengkal kesalahanku
Aku menitikkan air mata
Di balik tubuh lemahku
Di balik keterbatasanku
Di balik serangan Lupusku
Sejuta nikmat masih bisA kukecap
Sedangkan aku tak lebih dari insan yang penuh dosa
Aku bersyukur
Aku memiliki segala sesuatu yang aku inginkan
Aku memiliki orang tua yang melindungiku
Aku memiliki saudara yang rela berbagi
Aku memiliki teman-teman yang selalu mendukungku
Aku yakin aku bisa berdiri karena itu semua
Keterbatasanku
Kelemahanku
Kekuranganku
Akan kuterima ikhlas
Akan kunikmati
Aku akan selalu kuat
Aku akan bertahan sembari menikmati getirnya cobaan ini
Karena memang bukan sesuatu yang sulit dinikmati
Aku bahagia
Aku akan tersenyum untukmu dan untuk semua orang yang Allah ciptakan buatku
Aku akan berusaha membuat mereka bangga
Aku ingin ketika ku pergi nanti
Semua orang tersenyum bangga terhadapku
Semua mendoakan kebaikan kepadaku
Terima kasih untuk semua yang menyayangiku
Hingga semua yang rela berkorban untukku
Cintaku akan selalu ada buat semua
Thanks for love

Senin, 15 Februari 2010

i'am happy

Wahhh, udah berapa minggu yah gag posting? Aku punya cerita banyak sebenernya. Tapi kemarin mataku sakit jadi sementara menghindari online dulu deh.
Kemarin juga sibuk ujian-ujian n ngurusin urusan kampus. Pagi kuliah, pulang sampai sore cz kegiatan. Capek banget. Tapi okelaahh, asyik juga gitu. Odapus kaya aku gag pernah mau patah semangat. Musti maju terus. Kemarin sempat terpukul juga hasil ujian gag seperti yang dibayangkan. Tapi, mau gag mau harus diterima juga. Tinggal menghadapi kedepannya besok. Sekarang buka semangat baru.
Ohiiaa, lagi happy super duper happy! Aku tanggal 12 Februari 2010 kemarin dapet undangan jadi narasumber di workshopnya bang Rory ( orang yang bantu aku kenal sama odapus lain. Pokoke the best ). Seru!!! Aku cerita sederet pengalamanku, perasaanku, dan cara hidup ala pretty odapus. Nambah temen, nambah kenalan, dan yang pasti nambahin aku semangat. Mereka semua mendukung agar aku lebih berkarya. Usulnya oke, tapi sebenernya aku bingung mulai dari mana dulu.
Makasih jua buat mbak Tika yang kasih aku bingkisan. Aku makin sadar kalau odapus nggak harus bersedih ria. Aku da odapus lain adalah special. Oleh karena itu aku selalu berusaha go ahead dan semangat pantang menyerah. Segala sesuatu kalau kembali diserahkan kepada-Nya akan terasa ringan. Kebahagiaanku akan selalu ku buat supaya orang di sekitarku ikut bahagia. Mereka semua akan ikut tersenyum ketika aku tersenyum. Dan mereka akan menangis ketika aku menangis. Mereka adalah orang-orang yang menyayangiku. Aku tak mau membalas dengan kepedihan. Di dunia ini banyak yang membutuhkanku. Maka dari itu aku harus survive untuk mereka. Semangatku karena mereka. Senyumku karena mereka. Cintaku juga buat mereka.
Love from my deepest heart…

Senin, 18 Januari 2010

Curhatku

Aku ingin sedikit berbagi cerita mengenai Lupusku. Semoga ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang membacanya.

Flashback....

Aku adalah siswi salah satu sekolah swasta di solo. Saat itu aku kelas X atau kelas 1 SMA. Di sana aku tergolong siswi yang nggak bodo-bodo amat. Alhamdulillah aku bisa mencapai peringkat yang cukup memuaskan. Prestasi kupertahankan. Aku begitu obsesi masuk pada jurusan Ilmu Alam. Semakin aku mengejar, semakin semangat diriku, dan semakin meningkat pula prestasiku. Berbagai les matapelajaran kuikuti hingga aku mengabaikan pola hidupku dan kesehatanku.
Di pertengahan aku kelas X, aku mulai merasakan kejanggalan. Wajahku yang semula bersih muncul ruam kemerahan di pipi sebelah kanan. Sebenarnya kemerahan itu sudah tampak sejak aku SMP. Tapi aku sendiri tidak begitu menghiraukan karena memang ruam itu sangat kecil, tipis, dan belum tentu tampak setiap saat. Empat bulan berjalan, ruamku mulai melebar dan lebih memerah terutama jika tubuhku terpapar sinar matahari. Seiring dengan itu, aku merasakan nyeri pada persendian, rambut rontok, sering mengalami sakit kepala hebat, badan mudah lelah, kehilangan nafsu makan,dan sering mengalami sariawan. Aku yang memang selalu cuek, tidak begitu menghiraukan gejala-gejala tersebut mengingat kegiatan ku yang cukup banyak. Jadi kupikir itu hanya efek dari kecapekan, stres, salah shampo, dan kurang vitamin. Apalagi impianku untuk masuk ke jurusan Ilmu Alam berjalan dengan sangat sukses. Jadi aku semakin tidak memperhatikan tubuhku. Tetapi lama-kelamaan aku juga curiga. Awalnya aku nggak cerita ke orang tua. Begitu nyeri sendi kurasa sangat mengganggu aktivitasku, barulah aku mengadu ke bunda. Saat itu juga 23 Juli 2007 aku dibawa ke dokter umum yang sudah menjadi dokter keluarga. Diagnosa dokter adalah radang tendon. Orangtuaku dipesan untuk segera memeriksaan jika terjadi nyeri lagi. Nyaman. itulah yang kurasakan 2bulan setelahnya. Aku pikir aku sudah sembuh. September 11, 2007 aku terpilih menjadi siswi yang mewakili sekolah dan kotaku utuk pertukaran pelajar "English Camp" ke Lembang-Bandung. Aku dikirim bersama satu siswa yang kebetulan juga teman baikku. Satu minggu di sana aku merasakan kembali nyeri sendi yang pernah aku rasakan. Badanku terasa sangat lemas hingga membuatku absen selama 2hari dalam kegiatan di Lembang. 18 September 2007, aku kembali ke Solo. Di pesawat aku merasakan segera ingin sampai di Solo karena aku merasa sangat tidak enak badan.
Singkatnya, aku kembali ke dokter umum keesokan harinya. Dokter itu menganjurkan untuk check-up. Satu minggu, hasil check-up keluar. Dokterku hanya diam dan merujukku ke Dokter spesialis penyakit dalam. Jujur, aku sangat heran karena aku belum mengerti apa sakitku. Angka RF Kualitatif dari check-upku POSITIF. HB-ku rendah, dan trombositku berlebih. Laju LED-ku juga sangat jauh dari angka normal. Sakit apakah aku ini? 27 September 2007, aku dianjurkan oleh dokter internisku untuk check-up yang bersifat lebih spesifik lagi. Saat itu badanku masih saja merasakan lemas yang teramat sangat. Tubuhku selalu demam, demam yang tak terlalu tinggi. Ketika hasil check-up keluar, ternyata spesifikasai itu semakin menunjukkan bahwa aku terserang Lupus. Dokterku tidak berkata apa-apa karena mungkin dalam etika kedokteran memang seperti itu. Aku terima saja obat-obatan yang macamnya sangat bervariasa. Bagiku saat itu menelan obat adalah makan kacang. 8macam obatku. Aku mengetahui bahwa aku Odapus ketika aku berkunjung ke klinik tanteku yang kebetulan adalah dokter kulit. Aku mengonsultasikan ruam di pipiku. Dan tantekulah yang menjelaskan dan menyemangatiku. Mulai detik itu, aku giat mencari artikel, cerita, dan membaca segala sesuatu mengenai Lupus. Sama sekali tak kusangka seperti ini. Tetapi hal yang terjadi sudah digariskan oleh Allah. Orang yang sehat saja bisa tiba-tiba meninggal. Apalagi penyandang sebuah penyakit. Ini takdir yang harus dijalani.
Aku mulai menata hidupku kembali, semangat, dan selalu menggantungkan harapan dan berusaha menggapainya. Aku berusaha di bidang akademisku, dan bunda berusaha dalam memenuhi asupan gizi yang aku perlukan. Berbagai macam makanan, minuman yang dianjurkan untuk Odapus, orang tuaku selalu berusaha memberikannya. Aku sangat terharu. Tak sampai hati jika aku mengecewakan mereka. Perlahan nilaiku kembali menanjak. Dan aku berhasil meraih nilai kelulusan yang cukup memuaskan. Alhamdulillah tes masuk PTN-ku juga berhasil menembus salah satu diantara 3 pilihan. Sungguh ini nikmat Allah. Sempat aku kembali drop karena terforsir dan kelelahan. Namun kembali kusemangati diriku. Sekarang hasil check-up ku memang sudah negative. T api tak jarang pula lupus kembali menggelitikiku. Aku sering berbicara kepada tubuhku sendiri dan mengelusnya. Terlihat kurang waras memang. Tapi aku membuktikan, hal itu menjadi sebuah motivasi yang dapat menyalakan kembali semangat yang redup. Aku sering berkata begini, “Lupieku saying, aku sudah nerima kamu di sini sejak pertama ku tahu kamu bersemayam di tubuhku. Aku nggak apa kamu bobo di sini. Tapi jangan nakal yah. Jangan suka cubitin. Ntar kalu aku sakit, banyak yang repot. Aku punya impian buat banggain orang tua dan keluarga. Kalu kamu bikin aku sakit, nanti aku cuma bisa mimpi, nggak bangun-bangun dari mimpiku. Aku pengen jadi orang sukses. Kamu kan butuh makan. Makananmu mahal tau! Nggak mungkin seumur hidup aku nggantung ke orang tua. Aku harus bisa punya duit banyak biar kamu bisa makan n nggak kebanyakan polah. Saling mengerti ya, Lup.”
Yah, kata-kata seperti itu cukup memotivasi. Sesungguhnya obat paling mujarab adalah semangat kita. Kata Master Romy, “Setiap orang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri melalui sugesti yang positif.”
Semoga terdapat hikmah dari semua ini.

Sabtu, 16 Januari 2010

Greeting

Assalamu'alaikum.....

Perkenalkan, aku Prita. Aku seorang ODAPUS. Aku berusia 18tahun. Sejak usiaku 16tahun, aku divonis LUPUS. Manis pahit selama menjadi odapus sudah kukecap. Lebih banyak pahitnya juga sih,hehehe. Tapi, satu hal yang harus selalu tumbuh dan ada dalam hidupku adalah harapan dan semangat. Mereka berdua selalu membantuku hidup, membantuku merasa berarti, membantuku fight dalam segala cobaan yang Allah berikan. Aku sudah biasa merasakan sakit. Hampir setiap hari si Lupie, panggilan akrab kepada Lupusku, menggelitiki persedianku hingga tak jarang aktivitasku tergaggu. Hanya bisikan-bisikan positiflah yang selalu kuucapkan kepada diriku sendiri. Kontrol emosi dan mind set berfikir optimislah yang paling mujarab meredakan nyeri sendi yang biasa menyerang. Aku sadar, mobilitasku terbatas. Tapi aku tetap tak ingin merasa dibatasi. Aku selalu berusaha aktif dalam kegiatan. Baik di kampus maupun di rumah.
Alhamdulillah aku memiliki lingkungan yang positif juga. Keluargaku, ada bapak dan bunda yang selalu support aku dari sisi moral dan materi. Beliau bekerja demi anak-anaknya termasuk aku. Aku bahagia sekali dihadirkan Allah diantara keluargaku saat ini. Benar-benar kurasakan kehangatan, kasih sayang, menghormati, dan pengorbanan yang begitu kental. Bapak, yang seharusnya kubantu setiap menit justru berbalik membantuku setiap detik. Aku yaang sudah sebesar ini masih beliau manjakan, masih beliau jaga seperti aku masih kecil dulu. Beliau rela bangun malam dan menjagaku, memberikan obat, dan merawatku ketika aku saki. Subhanallah! Sungguh agung jasamu, Bapak. Aku mencintaimu. Aku sendiri tak tau bagaimana cara membalas jasamu itu. Bunda, yang melahirkanku. Hingga sebesar inipun aku belum bisa menjadi apa yang beliau inginkan. Tapi beliau juga seperti bapak. Menjadi pelindungku, selimut jiwaku. Beliau rela melakukan apapun demi aku, kesembuhanku. Adikku, jarak usia kami hampir 4tahun. Tapi sekarang kami sudah sama-sama bukan anak-anak lagi. Dia selalu kuajak sharing ketika aku memiliki masalah. Begitu besar hatinya. Ia rela mengalah demi aku yang notabene adalah kakaknya. Dia yang menjadi pengganti bunda jika bunda sedang bekerja. Aku juga sangat menyanginya. Tak ada adik yang sebaik dirinya. Bahkan terkesan ia lebih dewasa dibandingkan aku.
Di luar keluarga aku memiliki teman-teman yang positif. Mereka tanpa henti menyemangatiku. Mereka dengan senang hati membantuku. Mereka banyak memberi informasi mengenai lupus. Mereka juga banyak membantuku dalam belajar, akademisku. Mereka memberiku banyak referensi mengenai matapelajaran (SMA) maupun matakuliah (PT). Aku seperti merasa begitu beruntung. Lewat sakitku, banyak orang yang semakin menyayangiku.
Masih banyak lagi pihak-pihak yang sangat antensi terhadapku. Kerabat dari orang tuaku, dari keluarga besarku, dari teman-temanku. Mereka sangat andil dalam kesehatanku. Thanks all.
Lewat blog ini aku ingin berbagi info, berbagi perasaan, dan berbagi pengalaman kepada siapapun. Baik odapus maupun pemerhatinya. Aku ingin sharing mengenai segala sesuatu. Bisa mengenai Lupus atau diluar itu. Terimakasih.

Wassalamu'alaikum....