Jumat, 23 Juli 2010

Yang kutahu, Allah itu tidak tidur. Allah akan selalu membantu hamba-Nya disamping Allah akan senantiasa memberi cobaan untuk mengukur kesabaran hamba-Nya. Cobaan yang Allah berikan ini sekali lagi untuk mengukur tingkat kesabaran, bukan karena tidak sayang dan sebagainya. Ini yang sedang melandaku. Dua tiga bulan ini aku merasakan perubahan kesehatan yang luar biasa baik hingga ku bisa sungguh merasakan aku empat tahun lalu yang belum atau tanpa keluhan. Alhamdulillah, dokterkupun tersenyum puas akan perkembanganku. Bapak yang biasa terlampau khawatir, kini hanya menitipkan wejangan-wejangan ringan yang sekedar reminder kepentinganku. Bunda yang biasanya merancang menu padat asupan tipa dua jam, kini tak begitu ketat dan mempertahankan beberapa menu saja. Akupun begitu meskipun masih selalu menjaga. Beberapa kegiatan baru yang sedikit berbeda kucoba satu persatu. Kudalami jika aku memang sesuai di dalamnya, dan kutinggalkan jika sangat bertentangan. Aku kembali seperti dulu yang sudah bisa membereskan rumah satu paket dengan cuci mencuci dan memasak yang biasanya menghabiskan waktu total selama 2-3jam. Bahagianya aku. Ditambah lagi teman-teman yang selalu support, saudara yang selalu ada, dan my special one yang masih greteh dalam mengingatkan obat-makan-istirahat. All out sekali dan aku suka. Awalan yang kurang menyenangkan bersamanya pun kini berubah jadi kekuatan kita untuk selalu kompak menjalani hidup. Sejauh itu kesenangan yang aku rasakan.
Disamping itu datang satu persatu cobaan yang sedikit mengusik pikiranku. Satu persatu orang jahil, iseng, dan tak bertanggung jawab hingga mengusik hidupku datang membayangi, bahkan benar-benar menghampiri. Sampai terkadang aku kembali dihantui mimpi buruk masa lalu yang kutakutkan akan merapuhkanku lagi. Dan kini aku merasakan suatu masa yang berat untuk kujalani, tapi ku harus bisa. Cobaan dari banyak aspek yang berbeda datang secara bersamaan. Subhanallah sekali. Tak jarang sakit kepala hebat datang dan tak kunjung sembuh meski sudah kutelan penawarnya. Lalu? Aku menjadi sering berdiam diri yang terkadang seperti tren anak muda masa kini "meratapi" nasib. Lalu? Ku kirim SMS singkat kepada beberapa teman ODAPUSku dan mereka membalasnya. Obrolan singkat kami sering menjadi kesempatan untuk curcol, sharring satu sama lain. Tak kusangka. Masalahku hanya bagian kecil jika dibandingkan mereka. Cobaanku tak seberat mereka. Aku masih untuk sudah hampir setahun ini tak lagi ada rutinitas check-up, kecuali memang aku sendiri yang menghendaki. Mereka, masih dirujuk oleh dokternya masing-masing untuk check-up per minggunya. Beda mereka dan aku? Kesabaran mereka yang luar biasa menjadi inspirasiku menulis penggalan cerita ini. Semangatku yang kupikir sudah tinggi, ternyata masih ada yang mengalahkan. Segalanya begitu. Mereka yang berani melakukan perubahan untuk dirinyalah yang aku saluti dan selalu kucatat untuk kucontoh. Perubahan itu perlu. Menjadi lebih baik pastinya.
Special thanks and salutary for who make me think like that. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar