Aku ingin sedikit berbagi cerita mengenai Lupusku. Semoga ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang membacanya.
Flashback....
Aku adalah siswi salah satu sekolah swasta di solo. Saat itu aku kelas X atau kelas 1 SMA. Di sana aku tergolong siswi yang nggak bodo-bodo amat. Alhamdulillah aku bisa mencapai peringkat yang cukup memuaskan. Prestasi kupertahankan. Aku begitu obsesi masuk pada jurusan Ilmu Alam. Semakin aku mengejar, semakin semangat diriku, dan semakin meningkat pula prestasiku. Berbagai les matapelajaran kuikuti hingga aku mengabaikan pola hidupku dan kesehatanku.
Di pertengahan aku kelas X, aku mulai merasakan kejanggalan. Wajahku yang semula bersih muncul ruam kemerahan di pipi sebelah kanan. Sebenarnya kemerahan itu sudah tampak sejak aku SMP. Tapi aku sendiri tidak begitu menghiraukan karena memang ruam itu sangat kecil, tipis, dan belum tentu tampak setiap saat. Empat bulan berjalan, ruamku mulai melebar dan lebih memerah terutama jika tubuhku terpapar sinar matahari. Seiring dengan itu, aku merasakan nyeri pada persendian, rambut rontok, sering mengalami sakit kepala hebat, badan mudah lelah, kehilangan nafsu makan,dan sering mengalami sariawan. Aku yang memang selalu cuek, tidak begitu menghiraukan gejala-gejala tersebut mengingat kegiatan ku yang cukup banyak. Jadi kupikir itu hanya efek dari kecapekan, stres, salah shampo, dan kurang vitamin. Apalagi impianku untuk masuk ke jurusan Ilmu Alam berjalan dengan sangat sukses. Jadi aku semakin tidak memperhatikan tubuhku. Tetapi lama-kelamaan aku juga curiga. Awalnya aku nggak cerita ke orang tua. Begitu nyeri sendi kurasa sangat mengganggu aktivitasku, barulah aku mengadu ke bunda. Saat itu juga 23 Juli 2007 aku dibawa ke dokter umum yang sudah menjadi dokter keluarga. Diagnosa dokter adalah radang tendon. Orangtuaku dipesan untuk segera memeriksaan jika terjadi nyeri lagi. Nyaman. itulah yang kurasakan 2bulan setelahnya. Aku pikir aku sudah sembuh. September 11, 2007 aku terpilih menjadi siswi yang mewakili sekolah dan kotaku utuk pertukaran pelajar "English Camp" ke Lembang-Bandung. Aku dikirim bersama satu siswa yang kebetulan juga teman baikku. Satu minggu di sana aku merasakan kembali nyeri sendi yang pernah aku rasakan. Badanku terasa sangat lemas hingga membuatku absen selama 2hari dalam kegiatan di Lembang. 18 September 2007, aku kembali ke Solo. Di pesawat aku merasakan segera ingin sampai di Solo karena aku merasa sangat tidak enak badan.
Singkatnya, aku kembali ke dokter umum keesokan harinya. Dokter itu menganjurkan untuk check-up. Satu minggu, hasil check-up keluar. Dokterku hanya diam dan merujukku ke Dokter spesialis penyakit dalam. Jujur, aku sangat heran karena aku belum mengerti apa sakitku. Angka RF Kualitatif dari check-upku POSITIF. HB-ku rendah, dan trombositku berlebih. Laju LED-ku juga sangat jauh dari angka normal. Sakit apakah aku ini? 27 September 2007, aku dianjurkan oleh dokter internisku untuk check-up yang bersifat lebih spesifik lagi. Saat itu badanku masih saja merasakan lemas yang teramat sangat. Tubuhku selalu demam, demam yang tak terlalu tinggi. Ketika hasil check-up keluar, ternyata spesifikasai itu semakin menunjukkan bahwa aku terserang Lupus. Dokterku tidak berkata apa-apa karena mungkin dalam etika kedokteran memang seperti itu. Aku terima saja obat-obatan yang macamnya sangat bervariasa. Bagiku saat itu menelan obat adalah makan kacang. 8macam obatku. Aku mengetahui bahwa aku Odapus ketika aku berkunjung ke klinik tanteku yang kebetulan adalah dokter kulit. Aku mengonsultasikan ruam di pipiku. Dan tantekulah yang menjelaskan dan menyemangatiku. Mulai detik itu, aku giat mencari artikel, cerita, dan membaca segala sesuatu mengenai Lupus. Sama sekali tak kusangka seperti ini. Tetapi hal yang terjadi sudah digariskan oleh Allah. Orang yang sehat saja bisa tiba-tiba meninggal. Apalagi penyandang sebuah penyakit. Ini takdir yang harus dijalani.
Aku mulai menata hidupku kembali, semangat, dan selalu menggantungkan harapan dan berusaha menggapainya. Aku berusaha di bidang akademisku, dan bunda berusaha dalam memenuhi asupan gizi yang aku perlukan. Berbagai macam makanan, minuman yang dianjurkan untuk Odapus, orang tuaku selalu berusaha memberikannya. Aku sangat terharu. Tak sampai hati jika aku mengecewakan mereka. Perlahan nilaiku kembali menanjak. Dan aku berhasil meraih nilai kelulusan yang cukup memuaskan. Alhamdulillah tes masuk PTN-ku juga berhasil menembus salah satu diantara 3 pilihan. Sungguh ini nikmat Allah. Sempat aku kembali drop karena terforsir dan kelelahan. Namun kembali kusemangati diriku. Sekarang hasil check-up ku memang sudah negative. T api tak jarang pula lupus kembali menggelitikiku. Aku sering berbicara kepada tubuhku sendiri dan mengelusnya. Terlihat kurang waras memang. Tapi aku membuktikan, hal itu menjadi sebuah motivasi yang dapat menyalakan kembali semangat yang redup. Aku sering berkata begini, “Lupieku saying, aku sudah nerima kamu di sini sejak pertama ku tahu kamu bersemayam di tubuhku. Aku nggak apa kamu bobo di sini. Tapi jangan nakal yah. Jangan suka cubitin. Ntar kalu aku sakit, banyak yang repot. Aku punya impian buat banggain orang tua dan keluarga. Kalu kamu bikin aku sakit, nanti aku cuma bisa mimpi, nggak bangun-bangun dari mimpiku. Aku pengen jadi orang sukses. Kamu kan butuh makan. Makananmu mahal tau! Nggak mungkin seumur hidup aku nggantung ke orang tua. Aku harus bisa punya duit banyak biar kamu bisa makan n nggak kebanyakan polah. Saling mengerti ya, Lup.”
Yah, kata-kata seperti itu cukup memotivasi. Sesungguhnya obat paling mujarab adalah semangat kita. Kata Master Romy, “Setiap orang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri melalui sugesti yang positif.”
Semoga terdapat hikmah dari semua ini.








suip deh..
BalasHapusthats good..
BalasHapusteruskan tulisanmu tentang kehidupanmu itu..
saya yakin bisa kamu memotivasi yang lain..
makasiiiiii....^^
BalasHapussemangat ya prita sayang :)
BalasHapus