Senin, 06 September 2010

Ketika Kau Menyapa

Rapuh, semakin kurapuh
Belaimu remukkanku
Kau berdusta untuk pergi
Aku hilang daya
Pingsan tak siuman
Diam membisu tak berkata
Sedih...
Tak tahu ini apa
Perasaan hebat yang menerjang
Seperti ombak menerjang karang
Aku yakin aku kuat
Tapi kali ini ia lebih kuat
Aku karang dan ia ombak
Sesekali aku mampu
Dan aku tetap bisa hancur
Sedih...
Kau ingkari janjimu untuk pergi
Tapi kau datang menyapa lagi
Aku tak mampu menahan rasa sakit yang telah kau berikan
Aku rapuh dan belum siuman

1 komentar:

  1. wahai rembulan,
    wahai bintang,

    tidakkah kau sadar, langit telah memilihmu
    menjadi salah satu hiasannya

    apakah kau akan kalah oleh gerhana, karena dia takkan lama
    apakah kau akan kalah oleh mendung karena ia kan sirna

    ku rasakan semua resahmu,
    ku "nikmati" semua galaumu

    bahkan kalau bisa, kan ku ambil alih sakitmu
    namun itu tidak mungkin,
    karena pena langit telah memilihmu
    langit menyukai kecantikanmu

    ingin ku jadi sayap dalam rapuhmu
    ingin ku jadi akar bagi pohonmu
    ingin ku jadi oase bagi gurunmu
    ingin ku menjadi pelangi bagi hujanmu
    ingin ku menjadi awan putih bagi mendungmu

    hingga ku yakin
    amanah langit mampu kau tunaikan dengan baik
    dan aku juga menemui langit dengan senyum

    semoga...
    hanya ALLAH kekuatan kita

    (raja di hatimu)

    BalasHapus